Senin, 10 Oktober 2016

Pengobatan Asma Menggunakan Teknologi-Nano



Sebuah pendekatan baru telah diciptakan untuk mengobati asma dan alergi pernapasan! Sekelompok ilmuwan telah menemukan partikel nano yang dapat didegradasi secara biologis (biodegradable) untuk bertindak seperti kuda Troya yang menyusup ke dalam tubuh tanpa terganggu oleh sistem kekebalan tubuh. Para peneliti tersebut berasal dari Northwestern University di Illinois, Amerika Serikat. Mereka berfokus pada penggunaan partikel nano untuk mencegah reaksi alergi pada saluran pernapasan.
160418161000_1_900x600
Teknologi nano partikel ini dapat juga diterapkan pada alergi makanan, tidak hanya pada alergi akibat bakteri dan virus. Menurut Stephen Miller, seorang profesor di bidang Mikrobiologi-Imunologi di Northwestern University, aplikasi penemuan ini diharapkan dapat menghilangkan ketergantungan pada obat-obatan asma dan alergi paru-paru seumur hidup!
Metode ini bekerja dengan menciptakan suatu toleransi dalam sistem kekebalan tubuh terhadap partikel nano sebagai pencegah alergen. Teknologi ini telah diujicobakan kepada sekelompok tikus yang menderita asma dan sejauh ini bekerja dengan baik. Seiring dengan bertambahnya waktu, teknologi ini juga mengalami kemajuan dalam mengatasi penyakit autoimun. Penelitian ini didukung oleh Cour Pharmaceuticals Development Co, sebuah perusahaan medis yang kini tengah befokus pada terapi berbasis partikel nano.
Persetujuan FDA
FDA telah menyetujui penggunaan bahan partikel nano, yaitu semacam biopolimer yang disebut PLGA. PLGA ini terdiri dari asam laktat dan asam glikolat.
Cara Kerja
Ketika partikel nano disuntikkan ke aliran darah, sistem kekebalan tubuh akan melihat partikel sebagai partikel tidak berbahaya sehingga partikel akan dikonsumsi oleh makrofag atau sel pembersih. Sel pembersih akan “mengatakan” semua baik-baik saja. Akibatnya sistem kekebalan tubuh akan “menghentikan” respon mereka terhadap partikel nano sehingga partikel ini dapat menyusup ke paru-paru. Dalam kasus tikus, paru-paru mereka (tikus-tikus) telah diolah sedemikian rupa sehingga reaktif terhadap protein telur. Nah tikus-tikus ini bereaksi terhadap protein telur dengan reaksi semacam asma. Setelah partikel nano sampai ke paru-paru tikus dan menetralkan protein telur, mereka tidak menunjukkan gejala asma lagi.
Manfaat Lain
Para ilmuwan menemukan bahwa injeksi partikel nano dapat meningkatkan jumlah sel T-regulator yang berfungsi sebagai penenang alergen. Maksudnya semakin banyak sel T-regulator maka semakin lemah reaksi pasien terhadap alergen (penyebab alergi). Jika dibahasakan secara sederhana, jika paru-paru kita sangat alergi pada asap rokok maka peningkatan jumlah sel T regulator dalam tubuh kita akan mengurangi sensitifitas terhadap asap rokok.
Penemuan ini sangat berguna bagi perkembangan dalam penanganan gangguan pernapasan dan jika diaplikasikan secara luas kelak dapat benar-benar menghilangkan ketergantungan pada obat-obatan untuk asma dan alergi paru-paru.

Credit: Science DailyAllergy UK

sumber :http://technonews.id/pengobatan-asma-menggunakan-teknologi-nano/

Transistor Pertama Yang Terbuat Dari Tinta Kristal Nanometer


Transistor adalah bagian utama yang mendasar untuk membangun sebuah sirkuit elektronik. Transistor berkemampuan untuk mengubah tegangan listrik atau mengalihkan tegangan tersebut menjadi kombinasi antara 0 dan 1 untuk digunakan sebagai jantung perhitungan digital. Fabrikasi transistor adalah proses yang sangat kompleks dan memerlukan suhu tinggi serta kondisi vakum.
Sekarang, para peneliti asal University of Pennsylvania telah menunjukkan sebuah pendekatan baru untuk membuat perangkat ini dengan cara mendeposisi komponen-komponen elektronik dalam suatu tinta kristal nanometer cair. Penemuan seperti ini membuka pintu untuk menciptakan komponen listrik yang fleksibel atau untuk tujuan pembuatan aplikasi tertentu dengan proses yang membutuhkan suhu yang lebih rendah. Proses pembuatan tinta kristal nanometer cair pada suhu rendah ini, kompatibel digunakan bersama dengan beragam jenis bahan dan dapat diterapkan pada aplikasi dengan jangkauan are-area yang lebih besar. Para peneliti pada bidang kristal nanometer biasanya menciptakan transistor di atas plastik fleksibel menggunakan pelapis yang bentuknya memuntir, tapi akhirnya suatu saat akan bisa dibuat dengan menggunakan sistem manufaktur aditif, seperti menggunakan printer 3-D yang sedang booming saat ini misalnya.
Penelitian yang dipimpin oleh Cherie Kagan beranggotakan, Stephen J. Angello, seorang profesor di Sekolah Teknik dan Sains Terapan, Ji-Hyuk Choi, dan seorang anggota dari lab-nya yang sekarang menjadi peneliti senior di Korea Institute of Geoscience dan Sumber Daya Mineral. Han Wang, Soong Ju Oh, Taejong Paik dan Pil Sung Jo dari laboratorium Kagan turut berkontribusi juga dalam penelitian tersebut. Mereka berkolaborasi juga dengan Christopher Murray, seorang Profesor Pengetahuan Terintegrasi Penn dengan mengadakan pertemuan di Sekolah Seni Ilmu dan Teknik Penn. Kemudian setelah diadakan pertemuan tersebut, anggota lab dari Profesor Murray juga turut berpartisipasi yaitu Xingchen Ye, Benjamin Diroll, dan Jinwoo Sung dari Universitas Yonsei Korea.
Para peneliti tersebut memulai penelitian dengan menggunakan kristal nanometer atau partikel nanometer dengan struktur yang kasar dan bulat. Bahan tersebut berkaitan dengan kualitas tegangan listrik yang diperlukan untuk pembuatan transistor. Kemudian dilakukan penyebaran partikel-partikel ini dalam suatu cairan untuk membuat tinta kristal nanometer.
 photo DC4C6B35-4A53-4895-8C86-2BF9B181542B.jpg
Kelompok Kagan bertugas mengembangkan bahan untuk membuat tinta kristal nanometer yang membutuhkan bahan-bahan seperti konduktor (perak), isolator (aluminium oksida), semikonduktor (selenide kadmium) dan konduktor digabungkan dengan dopan (campuran perak dan indium). Dopan berfungsi sebagai pelapis semikonduktor transistor yang dilengkapi dengan pengontrol terhadap pengotor muatan sehingga perangkat dapat mentransmisikan muatan positif atau negatif dengan baik.
“Bahan-bahan yang digunakan tadi adalah golongan koloid seperti halnya tinta yang biasa digunakan di printer inkjet Anda,” kata Kagan. “Tetapi Anda bisa mendapatkan semua karakteristik yang Anda inginkan dan diharapkan dari bahan massal analog seperti bahan yang bersifat konduktor, semikonduktor atau isolator.
“Pertanyaan yang kami pikirkan adalah apakah mungkin bahan-bahan tersebut diletakkan dan disusun di atas permukaan sedemikian rupa yang sangat kecil untuk membentuk transistor fungsional?”
 photo 1D3AC97E-3D9E-4B55-A5E9-F1CC8FC1DBE3.jpg
Sifat listrik dari beberapa bahan tinta kristal nanometer ini telah diverifikasi secara independen (setiap bahan yang digunakan untuk pembuatan tinta sudah diketahui dapat menghantarkan listrik dengan baik), tetapi bahan-bahan tersebut tidak pernah digabungkan menjadi sebuah perangkat.
“Ini adalah pekerjaan yang baru pertama kali dilakukan,” ungkap Choi. “Menunjukkan bahwa semua komponen yang digunakan dapat dibuat dari kristal skala nanometer. Semua komponen yang dimaksudkan adalah logam, isolasi, dan lapisan semikonduktor transistor, dan bahkan doping semikonduktor.”
 photo 004E36A5-EBA0-43F5-9C3B-A9107D582338.jpg
Proses pembuatan transistor ini memerlukan pelapisan atau pencampuran semua komponen dalam pola yang tepat. Pertama, konduktif perak dari tinta kristal nanometer diendapkan dari cairan pada permukaan plastik fleksibel yang mana plastik fleksibel tersebut sudah mendapatkan perlakukan pelapisan photolithographic. Kemudian dengan cepat, konduktif perak tersebut diputar untuk dapat menariknya keluar dari lapisan tersebut. Lapisan itu kemudian dihapus untuk membuat konduktif perak dari tinta kristal nanometer membentuk elektroda dari transistor yang mana elektroda tersebut bentuknya seperti gerbang.
Para peneliti mengamati sepanjang lapisan tersebut dan dengan bersamaan memuntir lapisan aluminium oksida dari isolator kristal nanometer. Kemudian memuntir lapisan cadmium selenide berbasis semikonduktor kristal nanometer, dan akhirnya memuntir lapisan lain seperti indium/ campuran perak, yang membentuk sumber transistor dan elektroda. Setelah dipuntir dilakukan proses pemanasan pada suhu relatif rendah. Pada saat dipanaskan, dopan indium menyebar di seluruh elektroda dan menuju ke dalam komponen semikonduktor.
“Cara agar proses tersebut bekerja dengan baik adalah Anda harus memastikan bahwa ketika Anda menambahkan lapisan kedua, lapisan kedua tersebut tidak menyelubungi lapisan pertama, dan sebagainya,” kata Kagan. “Kami harus memberikan perlakukan terhadap permukaan kristal skala nanometer, baik ketika mereka pertama kali saat berada dalam larutan dan setelah mereka disimpan, untuk memastikan bahwa mereka memiliki sifat listrik yang tepat dan bahwa mereka tetap bersama-sama dalam konfigurasi yang kita inginkan.”
Keseluruhan proses fabrikasi ini bekerja pada suhu yang lebih rendah dari metode berbasis vakum lainnya yang pernah ada, sehingga para peneliti mampu membuat beberapa transistor pada plastik fleksibel yang sama dan waktu yang bersamaan. Sedangkan pada metode berbasis vakum yang lama, proses pembuatan transistor membutuhkan suhu yang tinggi, sehingga pembuatan transistor tidak dapat dilakukan pada plastik fleksibel yang sama dalam waktu yang bersamaan.
“Kami belum mengembangkan semua aspek yang diperlukan sehingga mereka bisa dicetak dengan menggunakan printer 3-D, tapi karena bahan ini semua berbasis cair, sangat memungkinkan untuk dilakukan proses produksi skala manufaktur aditif di kemudian hari,” tambah Kagan.
Credit: Physics World, Kurzweilai, News Upenn

sumber : http://technonews.id/transistor-pertama-yang-terbuat-dari-tinta-kristal-nanometer/

Perkenalkan Eelume, robot ular bawah laut serbaguna!


Perkenalkan Eelume, robot ular yang dirancang untuk eksplorasi, pemeriksaan, dan perbaikan bawah laut! Kita, manusia, tidak dirancang untuk bertahan lama di bawah air kecuali dengan seperangkat bantuan pernapasan. Oleh karena itu para ilmuwan dari Norwegian University bekerjasama dengan Kongsberg Maritime (sebuah perusahaan maritim yang berperan dalam pencarian monster Lochness), dan Statoil, perusahaan minyak Norwegia, menciptakan sebuah robot yang dirancang mampu bertahan lama di bawah permukaan air sembari melakukan beberapa pekerjaan rumit.
image
Robot ular ini dirancang secara khusus untuk melakukan inspeksi dan reparasi bawah laut. Robot ini dianggap sebagai satu solusi untuk menekan biaya operasional untuk inspeksi bawah laut yang selama ini dilakukan oleh kapal selam mini. Kapal selam mini biasa digunakan untuk inspeksi bawah laut namun sayangnya tidak terlalu efektif karena tidak dapat menjangkau beberapa sudut sempit. Sedangkan Eelume mampu meliuk-liuk dan menyusup ke berbagai sudut sempit untuk melakukan inspeksi dan reparasi bawah laut.
Eelume sangat fleksibel dan mampu menjalankan beberapa tugas sederhana, seperti inspeksi katup, perbaikan sederhana, dan pemeliharaan rutin terhadap berbagai komponen di bawah permukaan laut. Robot ini menggunakan sistem propulsi mandiri yang memungkinkannya untuk berenang seperti ular laut sungguhan!
Sejauh ini para desainer belum terlalu mengungkapkan tentang teknologi yang diterapkan pada Eelume namun yang jelas, robot ini benar-benar menghilangkan kebutuhan terhadap kabel pengendali. Ingin mengenal Eelume secara lebih mendalam? Yuk simak video di bawah ini!
Credit: Gizmodo

sumber : http://technonews.id/perkenalkan-eelume-robot-ular-bawah-laut-serbaguna/

Inilah Cikal Bakal Ponsel dengan Layar Kulit Anda! Layar OLED Tertipis di Dunia!



Di masa depan semua peralatan elektronik akan didesain menjadi semakin tipis. Bahkan ada beberapa elektronik yang akan didesain menjadi semakin fleksibel. Para peneliti yang berasal dari Universitas Tokyo membuat hal tersebut menjadi mungkin. Para peneliti tersebut telah berhasil membuat display yang diberi nama Organic Light Emitting Diode (OLED). Display ini sangat tipis, fleksibel, dan memiliki lapisan pelindung, sehingga memungkinkan penciptaan elektronik kulit (e-kulit) untuk mendeteksi tingkat oksigen darah, sensor detak jantung e-kulit untuk atlet maupun aplikasi lainnya.
Penemuan OLED ini memang ditujukan untuk mengintegrasikan perangkat elektronik dengan tubuh manusia untuk meningkatkan atau memulihkan fungsi tubuh, sehingga dengan kata lain akan digunakan sebagai aplikasi biomedis. Pengintegrasian perangkat elektronik dengan tubuh manusia memang sedang menjadi tren para peneliti di seluruh dunia. Secara khusus, elektronik yang dapat dipakai harus tipis dan fleksibel untuk meminimalkan dampak dimana mereka menempel pada tubuh. Namun, sebagian besar perangkat yang dikembangkan sejauh ini membutuhkan ketebalan milimeter dan terbuat dari bahan seperti kaca atau substrat plastik dengan fleksibilitas yang terbatas. Sementara itu, biasanya perangkat organik tipis dengan skala mikrometer yang fleksibel belum cukup stabil untuk dapat bertahan hidup di udara terbuka.

Kelompok penelitian Profesor Takao Someya dan Dr. Tomoyuki Yokota di University of Tokyo Graduate School of Engineering telah mengembangkan film pelindung berkualitas tinggi dengan ketebalan kurang dari dua mikrometer. Ketebalan dari lapisan pelindung ini sangat tipis yang memungkinkan produksi display elektronik yang sangat tipis, fleksibel, dan memiliki kinerja yang tinggi. Kelompok peneliti tersebut mengembangkan perangkat ini dengan menggunakan lapisan inorganik Silikon Oxynitrit dan bahan organik Parylene. Lapisan pelindung yang diciptakan pada OLED berfungsi sebagai pencegah oksigen dan uap air di udara merembes masuk kedalam perangkat elektronik OLED, sehingga dapat memperpanjang masa hidup perangkat. Jika tidak menggunakan lapisan pelindung ini, maka OLED hanya akan berumur beberapa jam saja. Jika menggunakan lapisan pelindung ini, maka perangkat OLED dapat bertahan hidup sampai dengan beberapa hari. Selain itu, kelompok penelitian dapat melampirkan elektroda transparan indium tin oxide (ITO) ke substrat super tipis tersebut tanpa merusaknya sama sekali, membuat tampilan e-kulit menjadi semakin mungkin untuk dibuat.
 photo C02A722C-C0A8-4CDC-81BB-5757E298A691.jpg
Penelitian tersebut juga memanfaatkan lapisan pelindung baru dan elektroda transparan ITO untuk menciptakan polimer dioda pemancar cahaya (PLEDs) dan photodetectors organik (OPDS). Kedua alat tersebut juga digunakan dalam bidang medis dan telah terbukti perangkat tersebut cukup tipis serta mampu menempel pada kulit. Tak hanya itu perangkat tersebut juga sangat fleksibel dan kelenturannya mampu mengikuti gerakan tubuh. PLEDs memiliki ketebalan hanya tiga mikrometer dan enam kali lebih efisien daripada PLEDs super tipis yang sebelumnya. Hal ini mengurangi panas yang dihasilkan dan konsumsi daya, membuat perangkat tersebut sangat cocok untuk dipasang langsung ke tubuh untuk aplikasi medis seperti menampilkan konsentrasi oksigen darah atau denyut nadi. Kelompok riset juga mengkombinasikan PLEDs merah dan hijau dengan photodetector untuk menunjukkan sensor oksigen darah.
“Penelitian ini bisa juga diarahkan ke arah pembuatan ponsel juga. Munculnya ponsel telah mengubah cara kita berkomunikasi. Sementara alat komunikasi ini didesain semakin kecil dan lebih kecil dari masa ke masa. Namun terkadang yang tidak praktis adalah perangkat tersebut harus kita bawa untuk menggunakannya,” kata Someya. Dia melanjutkan, “Bukankah akan lebih praktis jika kita menggunakan perangkat yang setiap saat menempel pada tubuh kita dan bahkan bisa menunjukkan emosi atau tingkat stres atau kegelisahan kita. Selain tidak harus membawa perangkat setiap saat, suatu saat perangkat tersebut mungkin untuk meningkatkan cara kita berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita.”

sumber : http://technonews.id/inilah-cikal-bakal-ponsel-dengan-layar-kulit-anda-layar-oled-tertipis-di-dunia/

Inovasi Kabel Skala Nanometer Berbentuk Mirip Matahari



Para peneliti sedang berlomba memproduksi kabel skala nanometer yang mampu menghantarkan listrik dengan baik. Semakin tipis ukuran kabel dan semakin baik sifat penghantaran listrik, maka hasil penelitian akan dianggap semakin baik. Jika ukuran dari kabel tersebut cukup tipis dalam skala nanometer, maka dapat disebut sebagai kabel satu dimensi. Satu dimensi yang dimaksud adalah hanya dari dimensi panjang saja (dimensi lebar dan tinggi dapat diabaikan), karena mikroskop elektron yang kini ada masih terbatas untuk melihat benda skala nanometer yang sangat kecil ukurannya.
Peneliti yang bernama Lining Fang dan rekannya Bin Cai berhasil menemukan cara untuk mensintesis kabel skala nanometer dengan bahan Galium nitrida (GaN). Mereka memilih menggunakan bahan GaN disebabkan oleh bahan tersebut memiliki sifat optoelektrik, mobilitas tinggi, dan kestabilan terhadap suhu yang baik dalam sintesis perangkat semikonduktor. Sifat optoelektrik dibutuhkan misalnya untuk pembuatan benda bening yang mampu menghantarkan listrik. Contoh perangkat yang sangat membutuhkan optoeletrik adalah ponsel yang bentuknya murni seperti kaca. Sifat mobilitas tinggi dibutuhkan, agar elektron mampu secara cepat menghantarkan listrik. Salah satu contoh perangkat yang membutuhkan mobilitas tinggi adalah komputer super cepat. Sedangkan sifat stabil terhadap suhu penting bagi elektronik, agar elektronik dapat tetap berfungsi normal baik di suhu tinggi maupun suhu rendah. Biasanya pada suhu sangat rendah, elektronik memiliki kecenderungan untuk berhenti berfungsi.
 photo 4E62B2EC-5DA3-464C-96B4-7A3C493BC558.jpg
Kabel skala nanometer ini dapat disintesis untuk tujuan produksi lainnya, seperti transistor, dioda pemancar cahaya, sirkuit logika, pendeteksi cahaya terutama UV, dan nanolaser. Kemudian para peneliti tersebut juga menjelaskan bahwa proses produksi kabel skala nano GaN sudah pernah dilakukan. Hanya saja penelitian tersebut perlu menggunakan katalias, seperti deposisi uap kimia (CVD). Selain itu penelitian yang sudah ada biasa menggunakan metode, seperti ablasi laser, epitaksi balok molekul (MBE), metalorganik deposisi uap kimia (MOCVD), dan uap hidrida fase epitaksi (HVPE). Pada penelitian Fang dan Bin Cai melakukan produksi kabel GaN dengan menggunakan CVD berkatalis.
 photo DC12063A-844A-45BA-AF6E-6DF503201F2B.png
Sedangkan mengenai bentuk dari kabel GaN yang diproduksi dengan berbagai ukuran dan bentuk, seperti kabel skala nanometer berbentuk zig-zag, kabel skala nanometer berbentuk daun, dan kabel skala nanometer yang diukir. Penelti tersebut menyimpulkan bahwa hampir keseluruhan dari hasil penelitian tersebut selalu menggunakan struktur umum GaN yang berbentuk heksagonal. Struktur heksagonal tersebut sengaja digunakan, karena memang bersifat lebih stabil secara termodinamika. Sedangkan pada penelitian ini, Lining Fang dan Bin Cai berusaha untuk memproduksi kabal GaN skala nanometer dalam bentuk yang mirip dengan matahari. Para peneliti tersebut berhasil memproduksi kabel skala nanometer GaN dengan struktur kristal tunggal berbentuk mirip matahari dengan kualitas yang tinggi. Kabel ini memiliki diameter 15-100 nm (sangat kecil sehingga seringkali diabaikan dan disebut kabel satu dimensi) dan panjang yang mampu mencapai beberapa ratus mikrometer. Ini adalah penelitian yang pertama kalinya dilakukan. Namun yang lebih mengagumkan, kabel berbentuk mirip matahari ini mampu mengumpulkan emisi UV dengan kuat pada panjang gelombang 370 nm dan 400 nm. Artinya kabel GaN jenis ini berpotensi digunakan dalam optoelektrik dan perangkat elektronik.
 photo E6F51C94-A52D-4A7C-A776-F1C02CDAC71F.png
Proses produksi dari kabel GaN dimulai dengan melarutkan CrCl3.6H2O sebanyak 0,266 gram ke dalam 10 ml etanol. Kemudian campuran antara CrC13.6H2O dengan etanol dicampurkan dengan serbuk besi sebanyak 0,01 gram dan diaduk dengan menggunakan ultrasonik selama 15 menit. Percampuran semua larutan tersebut akan digunakan sebagai katalis. Pada reaksi ini dibutuhkan katalis berupa campuran kromium dan etanol besi untuk menurunkan energi aktivasi, sehingga reaksi pembentuk GaN menjadi lebih cepat terjadi. Kemudian sintesis kabel skala nanometer GaN dimulai dengan menggunakan tungku konvensional bertabung horizontal dan menggunakan suhu tinggi. Kemudian substrat silikon tersebut dibersihkan dengan menggunakan air deionisasi, aseton, etanol absolut di dalam alat yang dinamakan bath ultrasound selama 15 menit.
Selanjutnya campuran dari kromium dan larutan etanol besi di tuangkan pada permukaan substrat silikon. Pada reaksi ini, silikon memang berperan sebagai substrat tempat bertumbuhnya kristal skala nanometer dari kabel GaN. Selanjutnya substrat silikon yang sudah diberi katalis dikeringkan pada suhu udara 800C.
Setelah kering, substrat silikon berkatalis tersebut dimasukkan ke dalam boat quartz yang telah berisi Galium dengan kemurnian 99,99%. Para peneliti tersebut menggunakan Galium dengan kemurnian tinggi, agar dihasilkan kinerja penghantaran listrik yang baik. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari teori yang menyatakan semakin murni bahan baku untuk pembentukan kabel, maka akan semakin baik kinerja yang dihasilkan oleh kabel tersebut. Semakin rendah nilai kemurnian, maka akan semakin buruk kinerja dalam menghantarkan listrik.
Jarak antara Galium dengan substrat silikon berkatalis adalah sejauh 10 dan 50 mm. Kemudian boat quartz tersebut dipindahkan ke tabung quartz yang terletak di dalam reaktor. Sebelum dilakukan pemanasan, tabung quartz dikurangi tekanannya hingga kurang dari 0,01 Torr dan ditambahkan dengan nitrogen sampai tekanan meningkat menjadi sekitar 1 atm. Sementara itu aliran gas nitrogen terus dialirkandalam tabung quartz dengan aliran sebanyak 50 sccm. Kemudian suhu dinaikkan menjadi 9000C dan NH3 dialirkan sebanyak 200 sccm secara konstan selama 90 menit. Lining Fang dan Bin Cai sengaja memilih suhu 9000C dari rentang suhu pemicu pertumbuhan kristal GaN 8000C – 10000C.
Sedangkan pada saat reaksi in aliran nitrogen pendingin dihentikan. Reaksi antara Galium dengan ammonia (NH3) pun terjadi dan membentuk kabel GaN. Setelah reaksi selesai, tungku tersebut didinginkan dengan nitrogen sampai mencapai suhu udara kamar yang berada di kisaran 250C. Hasilnya produk akan terkumpul di bagan permukaan silikon.
Lining Fang dan Bin Cai menganalisa ukuran dan bentuk dari kabel GaN menggunakan alat yang bernama FESEM keluaran Hitachi. Komposisi kimia dideteksi dengan menggunakan spektroskopi X-ray dispersif energi (EDS). EDS tersebut mampu mendeteksi komposisi kimia, karena telah menggunakan sistem analisis mikro khusus. Sedangkan analisa mengenai struktur dilakukan dengan menggunakan mikroskop elektron transmisi TEM keluaran Hitachi model 7700.
Credit: Intechopen, Hindawi

sumber : http://technonews.id/inovasi-kabel-skala-nanometer-berbentuk-mirip-matahari/

Inilah Baterai Super Awet yang Ditemukan Secara Tidak Sengaja!




img_0958
Pernahkah kamu membayangkan untuk mengisi baterai ponselmu 3 bulan sekali atau lebih? Sulit untuk membayangkannya bukan? Namun di tahun 2016 ini, bayangan itu akan menjadi nyata dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama!
Baru-baru ini para ilmuwan dari University of California telah secara tidak sengaha menciptakan baterai jenis Lithium-ion yang mempunyai rentang daya tahan hingga ratusan kali dari baterai sejenis. Daya tahannya diperkirakan sekitar 400 kali lebih panjang!
Menurut Mya Le Thai, ketua peneliti, baterai ini mampu bertahan terhadap 200 ribu kali proses pengisian, tentu sungguh mencolok jika dibandingkan dengan baterai Lithium-ion lainnya yang hanya bertahan terhadap 7000 kali proses pengisian.
Selama ini baterai Lithium-ion pada umumnya memiliki kelemahan yang bersumber dari kebutuhannya akan sebuah cairan khusus. Sebagai informasi, pada dasarnya baterai Lithium-ion memiliki tiga bagian fungsional, yaitu elektroda positif, elektroda negatif, dan cairan elektrolit. Elektroda positif menggunakan oksida logam, elektroda negatif menggunakan karbon (sejenis grafit), dan cairan elektrolit menggunakan cairan Lithium.

Cairan Lithium ini sangat sensitif terhadap suhu tinggi dan itulah sebabnya kita seringkali mendengar kasus ponsel meledak. Cairan ini juga menjadi alasan mengapa kebanyakan baterai Lithium-ion tidak tahan terhadap proses pengisian yang terlalu sering.
Nah, pada baterai “abadi” buatan para ilmuwan University of California ini tidak menggunakan cairan Lithium lagi melainkan gel Plexyglas yang dikombinasikan dengan serat emas untuk menyimpan energi listrik. Gel khusus ini diketahui jauh lebih tahan terhadap suhu dan tekanan arus pada proses pengisian. Apa itu Plexyglas? Ini adalah semacam bahan termoplastik transparan yang memiliki nama kimia Poly(methyl 2-methylpropenoate) atau biasa disebut sebagai PPMA. Sebenarnya material ini biasa hadir dalam bentuk seperti kaca namun dalam pembuatan baterai super awet ini, para ilmuwan merubahnya menjadi bentuk gel.

sumber : http://technonews.id/inilah-baterai-super-awet-yang-ditemukan-secara-tidak-sengaja/

5 teknologi terbaru dari Jepang

Seperti yang kita ketahui, Tentang negara maju yang memiliki Potensi Mengembangkan sebuah teknologi yang sangat Mengagumkan yang membuat manusia terinspirasi untuk membuat nya, bahkan ingin sekali memiliki sebuah robot yang dapat membantu meringankan pekerjaan manusia.




Hasil gambar untuk robot


                                                
Berikut ini adalah Bidang Teknologi yang sedang di kembangkan Oleh negara Jepang.

1. Teknologi Medis
Baru-baru ini Jepang berhasil mengembangkan teknologi terbaru di bidang medis yaitu dengan membuat sendi buatan hasil kerjasama dari Universitas Tokyo. Sendi buatan ini memiliki kelebihan dibandingkan pendahulunya. Selain tidak mudah longgar, sendi buatan terbaru ini juga dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama.
2. Teknologi Otomotif
Masalah teknologi otomotif di Jepang memang sudah tidak perlu diragukan lagi. Jepang merajai dunia otomotif dengan menjual produk otomotif mereka ke banyak negara. Kabarnya Jepang sedang mengembangkan teknologi hybird yang akan digunakan dalam kendaraan masa depan. Dengan teknologi ini maka konsumsi bahan bakar menjadi lebih irit dan lebih ramah lingkungan.
3. Teknologi Robot
Jepang ternyata sedang mengembangkan teknologi robot mereka dengan menciptakan robot canggih bernama Maido-Kun. Robot ini kabarnya mampu berjalan di atas catwalk sehingga mirip dengan model. Bukan tidak mungkin suatu saat ini Jepang bisa membuat robot seperti yang mereka kisahkan dalam serial komik maupun film-film kartun.
4. Teknologi Antariksa
Negara Jepang juga memiliki bandan antariksa yang tidak kalah canggih dengan NASA yaitu JAXA. Kabarnya JAXA berencana mengirimkan robot humanoid pertama ke bulan. Proyek tersebut rencananya akan dilangsungkan pada tahun 2015.
5. Teknologi Pangan
Kemajuan teknologi pangan di Jepang berkembang cukup pesat. Belum lama ini Jepang berhasil menciptakan teknologi baru di bidang pangan. Dengan teknologi tersebut memungkinkan mereka mengubah air laut menjadi air yang bisa diminum.
Itulah 5 teknologi terbaru di Jepang yang perlu anda ketahui. Teknologi yang dibuat oleh orang-orang jepang memang menakjubkan tetapi tentunya kita berharap muncul inovasi-inovasi lain yang berguna bagi banyak orang terutama inovasi yang berasal dari Indonesia.

sumbar : http://pengetahuanteknologidunia.wagomu.id/e1415.html