Senin, 17 Oktober 2016

Wideo

Software Edit Video PC Gratis Terbaik 2016 Aplikasi Wideo
Aplikasi Edit Video PC : Wideo
Wideo merupakan software edit video untuk pc yang berbasis online , Wideo terkenal dengan situs pembuat video animasi terbaik yang cocok untuk membuat video presentasi startup , guru dan murid sekolah hingga untuk kepentingan marketing .

sumber : https://ngelag.com/software-edit-video-gratis-terbaik/

Windows Movie Maker

Software Edit Video PC Gratis Terbaik 2016 Aplikasi Movie Maker
Aplikasi Edit Video PC : Movie Maker
Windows Movie Maker yang terakhir kali dikembangkan pada tahun 2014 initernyata masih menjadi primadona bagi para pemula yang hendak melakukan edit video melalui pc khususnya yang menggunakan sistem operasi windows .
Fiturnya sangat lengkap dan mudah digunakan , kita bisa memasukan foto , musik , menggabungkan beberapa vidoe menjadi sebuah video baru dan kita juga bisa memotong sebuah video untuk menyesuaikan durasinya . Selain memiliki fitur yang lengkap ,  Movie Maker juga sangat mudah digunakan kita hanya tinggal click sana dan click sini lalu publish .
Kita bisa menguploadnya langsung ke youtube , vimeo dan beberapa social media seperti facebook secara langsung melalui menu didalam aplikasi Windows Movie maker ini .

sumber : https://ngelag.com/software-edit-video-gratis-terbaik/

10 program cara membuat dan mengedit film

Blender

Software Edit Video PC Gratis Terbaik 2016 Aplikasi Blender
Aplikasi Edit Video PC : Blender
Blender pada dasarnya merupakan aplikasi gratis dan opensource yang lebih dikhususkan untuk modeling objetc 3 Dimensi , namun seperti yang dituliskan pada situs resimnya , Blender merupakan Software Editing Video PC yang memiliki banyak sekali fitur didalamnya .
Fitur edit video yang bisa kita manfaatkan melalui aplikasi ini adalah import , potong , pecah dan menggabungkan video , gambar maupun audio . Selain itu Blender juga memiliki fitur rendering yang baik seperti : GPU & CPU rendering , Realtime viewport preview dan HDR lighting support .
Blender juga bisa digunakan sebagai game engine (aplikasi pembuatan game) karena terdapat fitur Game Creation yang mencakup kemampuan seperti :
  • model bisa dipindahkan ke software game engine pihak ke tiga
  • kita bisa membuat logika dan code game kita sendiri
  • Full Bullet Physics integration
  • Python scripting API for advanced control and AI
  • Dukungan penuh OpenGLTM dynamic lighting, toon shading, animated materials termasuk Normal dan Parallax Mapping
  • Game bisa dimainkan didalam software tanpa harus melakukan processing atau compiling terlebih dahulu
  • 3D spatial audio menggunakan OpenAL
Blender tersedia untuk sistem operasi Windows , Mac OSX dan Linux .

sumber : https://ngelag.com/software-edit-video-gratis-terbaik/

Senin, 10 Oktober 2016

Material Graphene Makin Berkembang, Kini Digunakan Untuk Memonitor Kadar Gula Dalam Darah



Pada orang yang sehat, pankreas akan memproduksi insulin untuk mengendalikan kadar gula dalam darah. Sedangkan pada orang yang menderita diabetes, pankreas tidak lagi dapat bekerja dengan baik menghasilkan insulin. Kemudian pengobatan yang biasa dilakukan adalah dengan menyuntikkan insulin. Namun adakalanya beberapa penderita diabetes merasa takut untuk disuntik. Demi menanggulangi hal tersebut, maka peneliti berusaha untuk mencari solusi dan menemukan jawaban melalui teknologi nano.
Anda sebagai pecinta teknologi nano pasti sudah tidak asing lagi mendengar graphene. Graphene memang sudah lama menjadi salah satu bahan elektronik, karena bersifat sebagai penghantar listrik yang sangat baik. Tim peneliti yang berasal dari Pusat Penelitian Partikel Nano di Institute Basic Science (IBS) Korea Selatan, memanfaatkan sifat ini untuk membuat alat yang dapat memonitor kadar gula dalam darah. Penelitian ini telah dipublikasikan di Journal Nature Nanotechnology.
 photo 8FD833AE-40E8-4128-99D5-0C9A9A0C75C3.jpg
Dalam paper tersebut disebutkan bahwa alat ini dilengkapi dengan sensor yang dapat mendeteksi kadar gula melalui keringat dan mengotrol kadar gula dalam darah saat jumlahnya berlebih. Graphene yang digunakan dalam alat ini dicampur dengan emas skala nano dan dikombinasikan dengan emas yang berbentuk seperti jaring-jaring. Graphene yang dikombinasikan dengan emas skala nanometer ini memungkinkan untuk mendeteksi kadar gula melalui pH keringat. Variabel selain pH yang dapat dideteksi oleh alat ini adalah suhu dan kelembaban. Alat ini sangat lentur, sehingga dapat dengan nyaman dipakai di kulit. Kemudian saat seseorang menggunakannya, alat ini akan secara konstan memonitor kadar gula dalam darah. Anda dapat melihat hasil monitor kadar gula dalam darah melalui aplikasi khusus yang diinstal pada smartphone. Alat ini didesain untuk tidak membutuhkan kabel dalam pengiriman informasi ke smartphone. Alat yang dilengkapi dengan sensor kelembaban ini mengambil pH melalui keringat yang dikumpulkan setelah 15 menit. Kelembaban relatif (Relative Humidity/RH) yang diukur saat 15 menit itu biasanya telah mencapai 80%. Kemudian alat tersebut menghitung pH dari keringat penggunanya.
Jika alat ini mendeteksi adanya kadar gula yang berlebih melalui pH tertentu, maka alat tersebut akan memberitahu melalui smartphone seberapa banyak obat yang harus diinjeksikan ke dalam kulit. Selanjutnya panas akan mengaktifkan injeksi obat yang sudah ada di dalam patch graphene ini. Obat diabetes tersebut akan diinjeksikan masuk ke dalam kulit melalui jarum-jarum ukuran mikrometer yang terpasang secara menyeluruh pada alat ini. Tenang saja, Anda tidak perlu merasa ngeri menggunakan alat ini, karena jarum ukuran mikrometer terlalu kecil untuk Anda dapat merasa sakit. Para peneliti tersebut memilih untuk menginjeksikan obat melalui kulit, karena injeksi melalui kulit lebih efisien dibandingkan dengan menelan obat pil diabetes. Injeksi melalui kulit akan secara langsung masuk ke dalam sirkulasi metabolisme, sehingga akan lebih efisien mengatasi kelebihan gula darah.
 photo 952ECC91-A5DC-4F97-8CF4-0D06D5239C4A.jpg
Para peneliti tersebut menjelaskan bahwa penelitian ini telah dites dengan menggunakan tikus yang menderita diabetes. Penelitian ini juga sudah dibuktikan dapat berfungsi dengan baik pada manusia. Ada dua orang yang berpartisipasi untuk dites kadar gula darah mereka. Hasil yang diperoleh dengan menggunakan alat ini dicatat dan dibandingkan dengan tes gula darah komersial. Keduanya telah dikonfirmasi menunjukkan hasil yang dapat dipercaya. Selain itu, mereka menunjukkan proses bagaimana panas dapat mengaktifkan jarum – jarum ukuran mikrometer untuk menginjeksikan metformin yang merupakan obat bagi penderita diabetes. Alat ini bahkan telah terbukti mampu mempertahankan sensitivitasnya setelah beberapa kali pemakaian.
Dae-Hyeong Kim yang termasuk dalam tim penelitian ini mengatakan bahwa timnya memutuskan untuk menggunakan graphene, karena graphene adalah bahan yang hanya memiliki 2 dimensi pada saat tebalnya satu lapis atom saja. Saat graphene dibuat dengan ketebalan hanya satu lapis atom saja, maka akan bersifat transparan. Alasan lain graphene digunakan sebagai bahan utama alat ini, karena graphene sangat lembut dan fleksibel. Mereka membutuhkan bahan yang memiliki semua sifat tersebut untuk membuat alat yang dapat berfungsi dengan baik, tetapi tetap nyaman dipakai oleh penggunanya. Sedangkan untuk memperbaiki sifat elektrokimia graphene, maka graphene dicampur dengan emas skala nanometer dan dikombinasikan dengan emas yang berbentuk seperti jaring-jaring. Emas skala nano telah terbukti sebagai salah satu bahan yang dapat digunakan untuk pendeteksian biomolekul, ion-ion, dan perubahan pH.
img_0843
Dae-Hyeong Kim beserta dengan timnya berharap untuk adanya pengembangan lebih lanjut mengenai alat ini. Pengembangan yang dibutuhkan agar ukuran komponen ditingkatkan, sehingga kapasitas muatan obat metformin yang akan diinjeksikan ke kulit semakin besar. Mereka berharap agar suatu saat alat ini benar – benar dapat diproduksi secara komersial juga, karena akan ada banyak penderita diabetes yang tertolong hidupnya. Dea-Hyeong Kim juga berharap agar alat ini suatu saat dapat diproduksi tidak hanya di Korea Selatan saja, tetapi meliputi seluruh dunia. Mereka berharap penelitiannya dapat menyelamatkan jutaan orang penderita diabetes di seluruh dunia. Kim beserta timnya juga menjelaskan bahwa ini merupakan suatu terobosan baru untuk menggunakan graphene sebagai salah satu bahan alat medis. Alat ini praktis digunakan, karena pemberian obat dilakukan secara otomatis. Keunggulan lainnya yaitu tidak membutuhkan kabel penghubung mulai dari patch graphene sampai dengan smartphone, sehingga penggunanya bebas beraktivitas kemana saja.
Credit: PBS, ACS, Medical News Today, Engadget, Incompliance Mag

sumber : http://technonews.id/material-graphene-makin-berkembang-kini-digunakan-untuk-memonitor-kadar-gula-dalam-darah/

Beberapa tahun lagi mungkin kita bisa punya indera ke enam buatan!



Ingin memiliki kemampuan supranatural atau indera ke enam? Jika kamu ingin memiliki indera keenam mungkin kamu dapat mendapatkannya hanya dalam beberapa tahun karena saat ini sekelompok ilmuwan dari Duke University Medical Centre di Amerika Serikat tengah melakukan suatu percobaan implan otak pada sekelompok tikus laboratorium untuk membuat tikus-tikus itu memiliki “indera keenam”! Melalui penelitian ini, para ilmuwan ingin membuat tikus-tikus mampu melihat dalam kegelapan. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk membuat beberapa kemampuan super pada otak manusia.
Dasar dari penelitian ini adalah hipotesa para ilmuwan bahwa otak manusia dewasa dapat mengembangkan kemampuan-kemampuan yang sebelumnya tidak dimiliki dengan proses implan sensor-sensor tertentu yang dalam penelitian ini sangat peka terhadap gelombang mikro dan suara ultraviolet.
image
Empat Elektroda
Dalam eksperimen ini para ilmuwan menanamkan empat elektroda pada beberapa bagian otak tikus yang bertanggung jawab pada indera perasa. Masing-masing elektroda terkoneksi dengan sensor yang mampu menangkap cahaya inframerah. Pemasangan empat elektroda tersebut dilakukan satu-persatu karena setiap pemasangan elektroda membutuhkan proses adaptasi. Percobaan nampaknya membuahkan hasil karena tikus mampu mendeteksi sinar inframerah satu bulan setelah pemasangan sensor elektroda. Dan nampaknya kuantitas sensor yang ditanamkan sangat berpengaruh terhadap kecepatan tikus dalam bereaksi terhadap sinar inframerah. Hal ini terbukti ketika tikus menerima implan empat elektroda, tikus tersebut mampu mendeteksi sinar inframerah hanya dalam waktu tidak lebih dari 4 hari.
Dr. Miguel Nicolelis, ahli saraf dari Duke University Medical Center sekaligus pemimpin eksperimen, mengatakan bahwa berbeda dengan otak vertebrata lain, otak mamalia memiliki kemampuan beradaptasi yang lebih tinggi. Dalam makalahnya, Dr. Nicolelis menyatakan bahwa otak mamalia dewasa mampu melakukan restrukturisasi terhadap fungsi internal otak itu sendiri. Dia percaya bahwa percobaan ini dapat diaplikasikan pada manusia dalam waktu yang tidak terlalu lama, dan begitu sukses diaplikasikan, manusia diharapkan mampu memiliki berbagai kemampuan otak yang sebelumnya tidak dimiliki, seperti indera ke enam dan kemampuan mendeteksi gelombang-gelombang suara yang sebelumnya tidak dapat ditangkap oleh indera manusia.
Credit: NewScientist

sumber : http://technonews.id/beberapa-tahun-lagi-mungkin-kita-bisa-punya-indera-ke-enam-buatan/

Penemuan Alat Untuk Memproyeksikan Perangkat DNA Skala Nanometer


Sebuah tim peneliti yang bekerja di Departemen Energi Lawrence Berkeley National Laboratory (Berkeley Lab) telah berhasil menangkap gambar dengan resolusi tinggi 3D dari segmen DNA double-helix yang melekat di kedua ujung dari partikel emas ukuran nanometer. Gambar tersebut sangat mendetail sehingga mampu menggambarkan struktur fleksibel dari segmen DNA yang tampak seperti tali-tali ukuran nanometer. Struktur DNA yang seperti tali itu dikatakan fleksibel karena dapat direntangkan maupun dimampatkan.
Tak hanya itu fleksibilitas DNA ini dapat melambai seperti tangan manusia. Momen ini adalah yang pertama kali dapat terwujud dimana para peneliti tersebut dapat menyaksikan secara langsung untaian ganda DNA dalam bentuk 3D. Hasil penelitian ini sudah dipublikasikan pada tanggal 30 Maret di Edition of Nature Communications. Alat Ini dinamakan Individual-Particle Electron Tomography (IPET).
 photo 98ACC139-6032-486F-ABEC-F407F25BABF3.png
Kemampuan pencitraan yang sangat baik ini dipelopori oleh para peneliti asal Berkeley Lab. Teknik pencitraan ini menggunakan partikel emas yang dibentuk polygon sebagai penjepit DNA. Alat ini juga memiliki kemampuan seperti mikroskop elektron modern dan didukung dengan software yang canggih. Dengan diperolehnya gambar detail dari segmen DNA, diharapkan akan dapat membantu kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang penggunaan DNA sebagai blok pembangun untuk perangkat skala molekular yang mana akan berfungsi sebagai sistem pemberian obat skala nanometer, komponen untuk memori komputer, dan juga perangkat elektronik lainnya. Bukan tidak mungkin suatu saat manusia dapat membuat robot skala nanometer yang proses perakitannya terjadi secara otomatis dengan menggunakan kemampuan perakitan dan pembongkaran DNA. Penggunaan teknik pencitraan dengan alat ini juga memungkinkan untuk perolehan gambar akan protein penyakit yang masih sukar untuk dipahami jika menggunakan teknik pencitraan yang lain. Selain itu dengan menggunakan teknik pencitraan yang baru ini, sekarang para peneliti akan dapat dengan mudah mengamati proses perakitan DNA dan pemisahannya.
image
Gary Ren yang merupakan salah seorang peneliti dari proyek IPET mengatakan alasan mengapa timnya sangat antusias menguak misteri mengenai DNA, yakni karena DNA bersifat mudah untuk dimanipulasi dan dapat bersintesis dan bereplika secara otomatis. Yang lebih menakjubkan, alat ini mampu mengambil gambar DNA secara mendetail sampai dengan ukuran 2 nanometer. Jadi bisa dibayangkan betapa canggih teknik pencitraan yang baru ini.
Kedepannya, para peneliti tersebut berniat untuk mengembangkan lebih lanjut mengenai alat ini, sehingga mampu mendeteksi detail gambar pada skala yang lebih kecil dari 2 nanometer. Para peneliti tersebut merasa sangat positif untuk dapat mengembangkan resolusi gambar dengan cara meningkatkan algoritma komputasional. Para peneliti tersebut juga menambahkan bahwa sudah banyak pihak yang tertarik untuk menggunakan IPET yang mereka ciptakan. Pihak-pihak tersebut seperti perusahaan farmasi dan peneliti teknologi skala nanometer. Nampaknya alat ini akan sangat kebanjiran order, padahal timnya juga sudah memiliki proyek yang membutuhkan alat tersebut.
Credit: Phys, Science Daily

sumber : http://technonews.id/penemuan-alat-untuk-memproyeksikan-perangkat-dna-skala-nanometer/

Pengobatan Asma Menggunakan Teknologi-Nano



Sebuah pendekatan baru telah diciptakan untuk mengobati asma dan alergi pernapasan! Sekelompok ilmuwan telah menemukan partikel nano yang dapat didegradasi secara biologis (biodegradable) untuk bertindak seperti kuda Troya yang menyusup ke dalam tubuh tanpa terganggu oleh sistem kekebalan tubuh. Para peneliti tersebut berasal dari Northwestern University di Illinois, Amerika Serikat. Mereka berfokus pada penggunaan partikel nano untuk mencegah reaksi alergi pada saluran pernapasan.
160418161000_1_900x600
Teknologi nano partikel ini dapat juga diterapkan pada alergi makanan, tidak hanya pada alergi akibat bakteri dan virus. Menurut Stephen Miller, seorang profesor di bidang Mikrobiologi-Imunologi di Northwestern University, aplikasi penemuan ini diharapkan dapat menghilangkan ketergantungan pada obat-obatan asma dan alergi paru-paru seumur hidup!
Metode ini bekerja dengan menciptakan suatu toleransi dalam sistem kekebalan tubuh terhadap partikel nano sebagai pencegah alergen. Teknologi ini telah diujicobakan kepada sekelompok tikus yang menderita asma dan sejauh ini bekerja dengan baik. Seiring dengan bertambahnya waktu, teknologi ini juga mengalami kemajuan dalam mengatasi penyakit autoimun. Penelitian ini didukung oleh Cour Pharmaceuticals Development Co, sebuah perusahaan medis yang kini tengah befokus pada terapi berbasis partikel nano.
Persetujuan FDA
FDA telah menyetujui penggunaan bahan partikel nano, yaitu semacam biopolimer yang disebut PLGA. PLGA ini terdiri dari asam laktat dan asam glikolat.
Cara Kerja
Ketika partikel nano disuntikkan ke aliran darah, sistem kekebalan tubuh akan melihat partikel sebagai partikel tidak berbahaya sehingga partikel akan dikonsumsi oleh makrofag atau sel pembersih. Sel pembersih akan “mengatakan” semua baik-baik saja. Akibatnya sistem kekebalan tubuh akan “menghentikan” respon mereka terhadap partikel nano sehingga partikel ini dapat menyusup ke paru-paru. Dalam kasus tikus, paru-paru mereka (tikus-tikus) telah diolah sedemikian rupa sehingga reaktif terhadap protein telur. Nah tikus-tikus ini bereaksi terhadap protein telur dengan reaksi semacam asma. Setelah partikel nano sampai ke paru-paru tikus dan menetralkan protein telur, mereka tidak menunjukkan gejala asma lagi.
Manfaat Lain
Para ilmuwan menemukan bahwa injeksi partikel nano dapat meningkatkan jumlah sel T-regulator yang berfungsi sebagai penenang alergen. Maksudnya semakin banyak sel T-regulator maka semakin lemah reaksi pasien terhadap alergen (penyebab alergi). Jika dibahasakan secara sederhana, jika paru-paru kita sangat alergi pada asap rokok maka peningkatan jumlah sel T regulator dalam tubuh kita akan mengurangi sensitifitas terhadap asap rokok.
Penemuan ini sangat berguna bagi perkembangan dalam penanganan gangguan pernapasan dan jika diaplikasikan secara luas kelak dapat benar-benar menghilangkan ketergantungan pada obat-obatan untuk asma dan alergi paru-paru.

Credit: Science DailyAllergy UK

sumber :http://technonews.id/pengobatan-asma-menggunakan-teknologi-nano/